Melihat mutu beras dari sisi SNI

Melihat Mutu Beras dari sisi SNI

MELIHAT MUTU BERAS DARI SISI SNI

Bagi masyarakat Indonesia, beras lebih tepatnya setelah diolah kemudian menjadi nasi sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok. Bahkan diantara masyarakat kita ada yang menganggap bahwa kalau belum makan nasi berarti sesungguhnya belum makan. Meskipun banyak pakar kesehatan yang mengingatkan akan bahaya kelebihan mengkonsumsi nasi, toh faktanya, dimana-mana nasi menjadi menu dasar untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Di restoran, hotel, warung makan kaki lima, kebanyakkan menjual makanan dengan menu dasar nasi. Komoditi beras kemudian menjadi perhatian pokok pemerintah. Komoditas ini juga cukup sensitif karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan nasib para pelaku ekonomi di sektor pertanian.

Mengutip dari laman www.indonesia-investments.com, beras adalah salah satu produk makanan pokok paling penting di dunia. Pernyataan ini terutama berlaku di Benua Asia, tempat beras menjadi makanan pokok untuk mayoritas penduduk (terutama di kalangan menengah ke bawah masyarakat). Benua Asia juga merupakan tempat tinggal dari para petani yang memproduksi sekitar 90% dari total produksi beras dunia. Budidaya beras cocok di wilayah-wilayah dengan iklim hangat, biaya tenaga kerja murah dan curah hujan yang tinggi karena budidaya makanan pokok ini membutuhkan banyak tenaga kerja dan suplai air. Wilayah-wilayah yang memenuhi kriteria tersebut kebanyakan berada di Asia. Karakteristik para petani Asia adalah mayoritas berasal dari daerah-daerah miskin dan hidup dalam kondisi kurang berkembang.

Meskipun Indonesia adalah negara terbesar ketiga yang memproduksi beras terbanyak di dunia, Indonesia masih tetap perlu mengimpor beras hampir setiap tahun. Situasi ini disebabkan karena para petani menggunakan teknik-teknik pertanian yang tidak optimal ditambah dengan konsumsi per kapita beras yang besar. Sementara itu, produksi beras di Indonesia didominasi oleh para petani kecil, bukan oleh perusahaan besar yang dimiliki swasta atau negara. Para petani kecil mengkontribusikan sekitar 90% dari produksi total beras di Indonesia. Setiap petani itu memiliki lahan rata-rata kurang dari 0,8 hektar.

Tren konsumsi beras nasional terus menurunan

Berdasarkan data Kementan yang dikutip kompas. com (25 Oktober 2017), hingga tahun 2017 tren konsumsi beras nasional terus mengalami penurunan. Pada tahun 2010, konsumsi beras di Indonesia mencapai 130 kilogram per kapita per tahun, dan tahun 2014 mencapai 124 kilogram per kapita per tahun, kemudian tahun 2017 mencapai 117 kilogram per kapita per tahun. Kendati demikian, angka tersebut masih jauh di atas konsumsi negara-negara Asia, seperti Korea Selatan 40 kilogram per kapita per tahun, Jepang 50 kilogram per kapita per tahun, Malaysia 80 kilogram per kapita per tahun, dan Thailand 70 kilogram per kapita per tahun.

Dari fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa beras yang kemudian diolah menjadi nasi (bisa juga diolah dengan berbagai produk makanan lainnya, misalnya ketan, bubur, dan sebagainya), masih menjadi andalan sebagai sumber karbohidrat utama, meskipun di Indonesia cukup banyak tersedia berbagai varietas makanan pokok seperti jagung, sagu, atau singkong. Komoditas beras juga menjadi objek menarik untuk penelitian guna mengembangkan berbagai padi varietas. Dikarenakan perbedaan varietas dan penggunaan teknologi pertanian, maka beras pun memiliki jenis yang berbeda-beda dengan harga yang berbeda-beda pula. Perbedaan itu menyangkut kualitas/mutu beras yang akan mempengaruhi cita rasa di lidah, dan kualitas gizi yang terkandung dalam beras.

Kualitas/Mutu Beras versi SNI

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah dokumen yang berisikan persyaratan teknis yang disusun secara konsensus oleh pemangku kepentingan dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk mencapai tujuan tertentu. Sesuai kaidah internasional, SNI yang ditetapkan berlaku secara sukarela. Namun demikian, apabila instansi teknis menilai SNI sangat berkaitan dengan masalah K3L/ Keamanan, Kesehatan, Keamanan, serta Kelestarian Lingkungan Hidup, SNI dapat diberlakukan secara wajib oleh instansi teknis tersebut. Pemberlakuan SNI secara wajib perlu dilakukan secara hati-hati. Sebab, meskipun niatnya baik untuk melindungi konsumen dalam negeri, industri mikro dan kecil bisa terkena imbas dari kebijakan ini. Pertimbangan yang komprehensif akan membuat SNI efektif dan bermanfaat sesuai dengan tujuan awal merumuskan SNI.

Walaupun masih sukarela, sekarang sudah banyak pelaku usaha yang menerapkan SNI. Bahkan, bila dilihat dari kegiatan monitoring dan evaluasi integritas Tanda SNI yang dilakukan BSN sejak tahun 2008, terlihat bahwa Prinsip Penerapan standar (SNI) yang bersifat sukarela memiliki korelasi positif. Dimana hasil pengujian produk yang bertanda SNI sukarela yang disampling menunjukkan kesesuaian diatas 60%, bahkan untuk tahun 2016, dari 71 sample Produk SNI sukarela yang dimonitor tingkat kesesuaian produknya mencapai 94,67%.

Hingga September 2017, BSN telah menetapkan SNI sejumlah 11.385 dan jumlah SNI yang telah diwajibkan oleh instansi terkait sejumlah 205 SNI. Nah, dari angka SNI yang ditetapkan tersebut, salah satu SNI yang masih bersifat sukarela adalah SNI Beras. Lantas, apa saja yang diatur dalam SNI tersebut sehingga konsumen yang membeli beras ber-SNI memperoleh manfaat lebih dibandingkan beras non SNI?

SNI 6128:2015

BSN menetapkan SNI 6128:2015 Beras. SNI ini merupakan revisi SNI sebelumnya SNI 6128:2008.SNI 6128:2015, Beras menetapkan ketentuan tentang persyaratan mutu, penandaan dan pengemasan pada semua jenis beras yang diperdagangkan untuk dikonsumsi. Dalam SNI didefinisikan beras sebagai Hasil utama yang diperoleh dari proses penggilingan gabah hasil tanaman padi (Oryza sativa L.) yang seluruh lapisan sekamnya terkelupas dan seluruh atau sebagian lembaga dan lapisan bekatulnya telah dipisahkan baik berupa butir beras utuh, beras kepala, beras patah, maupun menir.

SNI 6128:2015 menggolongkan beras ke dalam 4 kelas mutu yakni premium, medium 1, medium 2, dan medium 3. Adapun persyaratan mutu yang terdapat dalam SNI, terbagi menjadi 2 yakni persyaratan umum dan persyaratan khusus.

Persyaratan umum menyatakan bahwa beras harus bebas dari hama dan penyakit; bebas dari bau apek, asam atau bau asing lainnya; bebas dari campuran dedak dan bekatul; serta bebas dari bahan kimia yang membahayakan dan merugikan konsumen. Adapun persyaratan khusus, beras harus memenuhi persyaratan mutu sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Spesifikasi Persyaratan Mutu

No Komponen Mutu Satuan Kelas Mutu Beras
 Premium  Medium
 1 2 3
1 Derajat sosoh (min) (%) 100 95 90 80
2 Kadar air (maks) (%) 14 14 14 15
3 Beras kepala (min) (%) 95 78 73 60
4 Butir patah (maks) (%) 5 20 25 35
5 Menir (maks) (%) 0 2 2 5
6 Merah (maks) (%) 0 2 3 3
7 Kuning/rusak (maks) (%) 0 2 3 5
8 Butir kapur (maks) (%) 0 2 3 5
9 Benda asing (maks) (%) 0 0,02 0,05 0,2
10 Butir gabah (maks) (butir/100g) 0 1 2 3

Dalam SNI juga mensyaratkan keamanan beras dimana beras harus memenuhi syarat keamanan di bawah batas maksimum cemaran logam berat sesuai SNI 7387, Batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan. Juga harus memenuhi syarat keamanan di bawah batas maksimum residu pestisida sesuai SNI 7313, Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian.

Nah, dengan penjelasan di atas, tentu kita bisa membayangkan bagaimana sebuah produk beras yang telah mendapatkan tanda SNI, harus melalui serangkaian kegiatan sertifikasi dan pengujian kualitas dengan berbagai parameter sehingga lolos dan berhak mencantumkan tanda SNI. Penyusunan SNI Beras oleh para pemangku kepentingan (wakil dari produsen, konsumen, ahli, dan pemerintah) tentunya telah mempertimbangkan aspek-aspek ilmiah baik pendekatan teknologi pertanian maupun teknologi pangan sehingga mutu beras memenuhi syarat aman dikonsumsi. Konsumen yang cerdas akan memilih beras yang bertanda SNI dibanding yang belum memiliki tanda SNI karena mempunyai kelebihan sesuai persyaratan mutu beras dalam SNI.

Agar produk beras tersertifikasi SNI terjaga integritasnya, maka ada baiknya jika pengajuan proses sertifikasi ke lembaga sertifikasi produk dan laboratorium yang sudah diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *